Tanpa judul

 

ANCAMAN DISINTEGRASI BANGSA: PEMBERONTAKAN APRA DAN RMS

A. PEMBERONTAKAN APRA (ANGKATAN PERANG RATU ADIL) (1950)

1. Latar Belakang dan Kepentingan

  • Kekecewaan Mantan Tentara KNIL: APRA pada dasarnya adalah gerakan para mantan prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang kecewa dengan pembubaran KNIL dan integrasi tentara tersebut ke dalam TNI. Mereka khawatir kehilangan status dan penghidupan.

  • Pengaruh Kekuatan Federal/Belanda: Gerakan ini didalangi dan didukung oleh segelintir orang Belanda dan kaum federalis yang ingin mempertahankan bentuk Negara Pasundan sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Mereka menentang bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  • Figur dan Ideologi: Dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling, seorang mantan perwira KNIL. Nama "Ratu Adil" digunakan untuk menarik dukungan rakyat dengan janji-janji mesianis, tetapi kepentingan sebenarnya adalah mempertahankan kepentingan kolonial dan kelompok tertentu.

  • Tujuan: Mencegah pembubaran Negara Pasundan dan mengembalikan dominasi Belanda di Indonesia, khususnya Jawa Barat.

2. Kronologi Pemberontakan

  • Pada 23 Januari 1950, pasukan APRA di bawah pimpinan Westerling menyerang Kota Bandung.

  • Mereka membunuh secara brutal anggota TNI dan masyarakat sipil. Peristiwa paling mengenaskan adalah Pembantaian di Divisi Siliwangi, di mana puluhan prajurit TNI tewas.

  • Mereka berhasil menduduki markas Staf Divisi Siliwangi untuk sementara.

  • Rencana mereka untuk menduduki Jakarta dan menculik Menteri Pertahanan gagal.

3. Upaya Pemerintah dan Penumpasan

  • Pemerintah RIS (yang saat itu masih berlaku) bertindak tegas. Perdana Menteri Mohammad Hatta memerintahkan TNI untuk menghancurkan APRA.

  • TNI, dengan kekuatan penuh, berhasil memukul mundur pasukan APRA.

  • Raymond Westerling berhasil melarikan diri dengan pesawat milik Belanda ke Singapura, menunjukkan adanya keterlibatan oknum Belanda. Sisa-sisa pasukan APRA kemudian ditumpas atau menyerahkan diri.

4. Dampak dan Makna

  • Memperkuat tekad pemerintah dan TNI untuk membubarkan negara-negara bagian dalam RIS dan kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  • Memperlihatkan betapa berbahayanya sisa-sisa kolonialisme dan kepentingan asing yang ingin memecah belah Indonesia.

  • Menjadi bukti bahwa TNI adalah satu-satunya alat pertahanan negara yang sah.


B. PEMBERONTAKAN RMS (REPUBLIK MALUKU SELATAN) (1950)

1. Latar Belakang dan Kepentingan

  • Kekecewaan Mantan KNIL dan Elita Ambons: Pemberontakan RMS juga didukung kuat oleh mantan prajurit KNIL asal Maluku yang pro-Belanda. Mereka menolak integrasi Negara Indonesia Timur (NIT) ke dalam NKRI.

  • Aspirasi Separatisme Murni: Diproklamirkan oleh Dr. Christiaan Robbert Steven Soumokil (mantan Jaksa Agung NIT) pada 25 April 1950 di Ambon. Mereka ingin mendirikan negara sendiri yang terpisah dari Indonesia.

  • Faktor Sosial-Ekonomi: Kaum pro-RMS merasa bahwa dengan bergabung dengan Indonesia, posisi istimewa mereka (yang biasa dinikmati di masa kolonial sebagai tentara KNIL) akan hilang.

  • Tujuan: Mendirikan negara Republik Maluku Selatan yang merdeka dan berdaulat, terlepas dari Indonesia.

2. Kronologi Pemberontakan

  • Setelah proklamasi, kelompok RMS segera membentuk pemerintahan dan "angkatan perang" sendiri.

  • Mereka mengambil alih kekuasaan di Ambon dan daerah sekitarnya dengan kekerasan.

  • Pemerintah Indonesia awalnya mencoba pendekatan diplomasi, tetapi gagal.

3. Upaya Pemerintah dan Penumpasan

  • Pada Juli 1950, pemerintah mengirimkan operasi militer yang dikenal sebagai Operasi Militer untuk Menumpas RMS.

  • Operasi ini dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang, dengan melibatkan pasukan dari berbagai kesatuan, termasuk Batalyon Worang yang terkenal.

  • Pertempuran sengit terjadi. Panglima Tentara RMS, J.A. Manusama, akhirnya menyerah pada November 1950.

  • Pusat pemerintahan RMS kemudian berpindah ke Pulau Seram dan terus melakukan perlawanan gerilya selama bertahun-tahun. Soumokil baru berhasil ditangkap pada tahun 1962 dan dihukum mati pada 1966.

4. Dampak dan Makna

  • Pemberontakan RMS berhasil ditumpas, menegaskan kedaulatan Indonesia di Maluku.

  • Namun, jejak RMS masih ada hingga hari ini dalam bentuk pemerintahan dalam pengasingan (di Belanda), yang menunjukkan bahwa akar masalah dan sentiment tertentu masih hidup di sebagian kecil komunitas.

  • Menjadi pelajaran penting tentang kompleksitas integrasi bangsa, dimana sentimen kedaerahan dan warisan kolonial dapat menjadi pemicu disintegrasi.


PERBANDINGAN DAN KESIMPULAN

AspekAPRA (1950)RMS (1950)
Latar BelakangKekecewaan mantan KNIL; Pro-Negara Federal (RIS); Pengaruh Belanda.Kekecewaan mantan KNIL & elit Ambons; Aspirasi Negara Merdeka.
TujuanMempertahankan Negara Pasundan; Menghalangi NKRI.Mendirikan Negara Republik Maluku Selatan yang merdeka.
Tokoh KunciRaymond WesterlingDr. C.R.S. Soumokil
Bentuk AncamanKudeta Militer & Teror di Jawa Barat.Separatisme untuk memisahkan diri dari NKRI.
Cara PenumpasanOperasi Militer oleh TNI.Operasi Militer oleh TNI (setelah diplomasi gagal).
Dampak UtamaMempercepat pembubaran RIS & kembali ke NKRI.Menegaskan kedaulatan RI di Maluku, tapi meninggalkan masalah hingga kini.

Kesimpulan:
Kedua pemberontakan ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi Indonesia muda bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam, yang dimotivasi oleh warisan kolonial (KNIL), kepentingan kelompok yang terancam, dan sentimen separatisme. Respon tegas pemerintah dan TNI dalam menumpas pemberontakan ini menjadi fondasi kokoh bagi tegaknya kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


D. Aktivitas Pembelajaran yang Disarankan

  1. Analisis Perbandingan: Minta siswa (berkelompok) untuk mengisi tabel perbandingan di atas dan mempresentasikannya.

  2. Debat "Negara Federal vs Negara Kesatuan": Bagi kelas menjadi dua kelompok untuk berdebat dari sudut pandang pendukung RIS/federal (seperti APRA) dan pendukung NKRI, berdasarkan konteks sejarah tahun 1950.

  3. Studi Kasus Media: Carilah artikel berita terkini tentang isu RMS di Belanda. Diskusikan mengapa konflik historis ini masih memiliki dampak hingga sekarang.

  4. Membuat Timeline: Siswa secara individu atau berpasangan membuat timeline kronologis yang menggabungkan peristiwa APRA, RMS, dan proses kembali ke NKRI.

E. Penilaian

  • Pengetahuan: Tes tertulis tentang latar belakang, tokoh, dan kronologi.

  • Keterampilan: Penilaian presentasi kelompok dan hasil analisis tabel perbandingan.

  • Sikap dan Nilai: Penilaian partisipasi dalam diskusi dan kemampuan menarik nilai-nilai ketahanan nasional dari peristiwa sejarah.

Semoga materi ini dapat menjadi pedoman yang jelas dan menarik untuk disampaikan kepada siswa, Bapak/Ibu Guru. Selamat mengajar!

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama